July 30, 2009

Keluarga David Harap Dukungan Pemerintah

Antara – Kamis, Juli 30

Jakarta (ANTARA) – Pihak keluarga almarhum David Hartanto Widjaja, mahasiswa Nanyang Technological University (NTU), berharap mendapat dukungan pemerintah Indonesia, setelah pengadilan Singapura memutuskan David murni bunuh diri.

“Hasil keputusan Corner Court menyebutkan kalau David itu bunuh diri. Sementara pengajuan bukti dan saksi dari pihak keluarga David yang menilai itu adalah kasus pembunuhan, telah ditolak pihak pengadilan Singapura,” kata Iwan mewakili pihak keluarga David di Jakarta, Rabu.

Dengan jatuhnya putusan itu, lanjut Iwan, tidak terbuka peluang pengajuan pembukaan kasus itu kembali, karena pengadilan itu adalah “corner court” yang hanya memutuskan suatu perkara, termasuk menetapkan bahwa kasus itu sudah ditutup atau masih dapat dilanjutkan.

Menyikapi hal tersebut, ia mengatakan, pemerintah Indonesia harus memberikan dukungan, karena pengacara keluarga David, Shashi Natan di Singapura menilai ada konspirasi dan intervensi pemerintah Singapura.

Padahal ini adalah sidang pengadilan koroner, yang menurut undang-undang, harus bersih dari campur tangan negara.

Lebih lanjut Iwan mengatakan, sehari sebelum putusan pengadilan Singapura, Selasa (28/7), pihak keluarga David sempat menemui wakil presiden terpilih Boediono, yang pada saat itu berada di negeri singa itu.

Pada Rabu (29/7), pihak pengadilan Singapura memutuskan kasus David adalah kasus bunuh diri. Mahasiswa Indonesia yang melanjutkan studi di NTU itu, tewas Maret lalu setelah jatuh dari lantai empat di gedung kampusnya. Hal itu diperkuat dari keterangan dosen pembimbingnya, Profesor Chan Kap Luk yang menuduh David bunuh diri setelah menikam dia.

Namun oleh pihak keluarga David melalui kuasa hukumnya, yakin jika penerima olympiade sains itu dibunuh.

Dari analisa pengacara dan ahli forensik di Indonesia menilai pihak aparat Singapura berusaha menutupi dan memutarbalikkan fakta, katanya.

Alasannya, dari foto-foto forensik terbukti secara jelas bahwa kaki David telah dipelintir dan tangannya tersayat. Selain itu, juga ditemukan fakta David sudah bersimbah darah di tiga titik yakni di ruang dosen, di tangga darurat, dan di jembatan kaca.

Selain itu, luka yang dialami dosen pembimbing David hanya ada dua di bagian punggung, sementara almarhum David sedikitnya terdapat 18 tusukan.

July 28, 2009

KAMI JUGA PUNYA CITA-CITA

Masa kecil sejatinya adalah masa yang paling membahagiakan, tapi bagaimana dengan anak-anak yang terpaksa harus hidup ditengah-tengah konflik?

“Dulu saya melihat Ibu dibunuh musuh di depan saya,” kata Marthen Billy Jesajas, anak korban konflik Ambon, dengan suara tertahan. Marthen mengaku sempat dendam pada kejadian itu dan berniat membalasnya suatu hari.

Tak hanya Marthen, sejumlah anak-anak korban konflik Ambon yang hadir di Kick Andy menceritakan kepedihannya kehilangan keluarga akibat konflik di Ambon. Termasuk penderitaan mereka di masa pengungsian, hidup di barak, dan kehilangan sekolah sehingga tidak bisa belajar bertahun-tahun.

Meski sudah 10 tahun berlalu, konflik persaudaraan di Ambon masih menyisakan masalah, sedikitnya 2.580 keluarga masih terpencar di berbagai daerah. Dan Kick Andy mencoba untuk menghadirkan anak-anak korban konflik Ambon yang berada di beberapa lokasi, menggali kebangkitan dan optimisme mereka saat ini dalam menggapai cita-cita.

Salah satunya adalah Marthen, yang kini tinggal di Panti Eklesia, Ambarawa. Setelah tiga tahun tinggal di sana, kini Marthen mengaku sudah tak dendam lagi pada pembunuh ibunya. “Saya dikasi tahu mami Karina, kalau kita harus memaafkan orang lain,” kata Marthen di Kick andy. Hebatnya lagi, Marthen kini sudah kembali bersekolah dan selalu jadi juara kelas.

Karina yang disebut Marthen sebagai Mami itu adalah pengurus Panti Eklesia. Menurut Karina, 90% anak asuhnya di panti ini adalah korban konflik Ambon. Dengan kesabaran ia mengasuh anak-anak korban konflik, merawat dan membesarkannya, termasuk harus mengurus operasi sebagian anak-anak yang ternyata masih menyimpan serpihan bom di beberapa bagian tubuhnya. Dengan semangatnya ia berusaha untuk mengubah trauma menjadi prestasi.

Salah satu anak asuh Karina yang mungkin sudah anda kenal adalah Olin, finalis Idola Cilik II. Karina menemukan Olin di sebuah barak dalam kondisi yang pantang menyerah. “Saya hidup di bawah pohon di hutan hingga 2 bulan, lalu setahun dibarak dan sering kelaparan,” papar Olin.

Menariknya Olin punya cara untuk melawan lapar di saat hujan mengguyur. “Saya menyanyi keras-keras mengalahkan suara hujan dan lapar,” katanya. Intinya anak yang tak pernah hidup bersama orang tuanya ini memiliki konsep sederhana; dengan menyanyi ia bisa menghadapi kehidupan.

Setelah menjadi bagian anak-anak korban konflik yang dipulihkan di Panti Eklesia, Olin pun akhirnya bisa mewujudkan impiannya menjadi seorang penyanyi. Ia menjadi 10 finalis Idola Cilik II, yang diselenggarakan RCTI.

Kisah menarik lain, kita temukan di Panti Asuhan sekaligus Pondok Pesantren Al Habibah Sidoarjo, dimana 54 anak korban konflik menjadi santri di sana. Menurut pemilik yayasan Dewi Zulaikha, pertama kali anak-anak itu tiba di panti asuhannya tingkah mereka sangatlah mengagetkan. “Bayangkan jam 2 pagi masih main bola, berantem sampai berdarah-darah tapi gak ada yang nangis,” kata Dewi. “Tapi kini bisa dikatakan berubah 180 derajat,” tambahnya.

Salah satu contoh perubahan itu bisa kita lihat dari semangat-semangat anak-anak yang diasuhnya. “Kalau saya sudah lulus, saya ingin menjadi guru dan mengajar di Ambon,” kata Dian salah satu korban konflik.

Semangat yang sama ditemukan pula di Pondok Pesantren Madinatunnajah, Ciputat, dimana tujuh anak korban konflik Ambon menjadi santri di sana. “Mereka datang tanpa dokumen sama sekali, buku rapor pun tak ada karena mereka sudah berhenti sekolah lebih dari setahun,” ujar Agus, pengelola pesantren. Alhasil ke-tujuh anak itu pun kembali di test untuk menentukan kelas sekolah selanjutnya.

Di Yayasan Pniel, Bintaro, ada 42 anak korban konflik yang tinggal di sana sejak enam tahun lalu. Mereka adalah anak-anak yang kehilangan keluarga karena meninggal atau karena terpencar tak jelas rimbanya. Luka akibat konflik telah membekas pada jiwa anak-anak itu yang menjadikan mereka sangat keras dan susah diatur. “Saya nyaris putus asa mengurus mereka,” ujar Ibu Stien, pengelola panti asuhan yang sekaligus panti jompo ini.

Akhirnya dengan memakai system disiplin ala tentara, Ibu Stien berhasil mengatasinya. Anak-anak itu kini sudah kembali bersekolah dan menjalani kehidupan layaknya anak-anak lain.

Terapi musik menjadi bagian penting pemulihan anak-anak di yayasan Pniel, setiap hari mereka melakukan latihan bermusik dan bernyanyi. Alhasil terbentuklah sebuah kelompok music dan nyanyi dengan nama “Voice of Angel”, sebuah choir dengan keindahan suara-suara bening anak-anak korban konflik Ambon.

Di Kick Andy anda semua akan mendengarkan keindahan suara mereka. Latar belakang mereka juga yang kemudian membawa kita menghayati setiap lirik lagu yang dinyanyikannya.

“Dari Halmahera hingga Tenggara Jauh kita masih saudarae……”

dikutip dari kick andy

July 28, 2009

Pemulung Naik KRL untuk Kubur Anaknya

PEMULUNG NAIK KRL UNTUK MENGUBUR ANAKNYA
Salemba, Warta Kota

PEJABAT Jakarta seperti ditampar. Seorang warganya harus menggendong
mayat anaknya karena tak mampu sewa mobil jenazah. Penumpang
kereta rel listrik (KRL) jurusan Jakarta – Bogor pun geger Minggu (5/6).
Sebab, mereka tahu bahwa seorang pemulung bernama Supriono (38 thn)
tengah menggendong mayat anak, Khaerunisa (3 thn). Supriono akan
memakamkan si kecil di Kampung Kramat, Bogor dengan menggunakan jasa KRL.

Tapi di Stasiun Tebet, Supriono dipaksa turun dari kereta, lantas
dibawa ke kantor polisi karena dicurigai si anak adalah korban
kejahatan. Tapi di kantor polisi, Supriono mengatakan si anak tewas
karena penyakit muntaber.
Polisi belum langsung percaya dan memaksa Supriono membawa jenazah
itu ke RSCM untuk diautopsi.

Di RSCM, Supriono menjelaskan bahwa Khaerunisa sudah empat hari
terserang muntaber. Dia sudah membawa Khaerunisa untuk berobat ke
Puskesmas Kecamatan Setiabudi. “Saya hanya sekali bawa Khaerunisa
ke puskesmas, saya tidak punya uang untuk membawanya lagi ke
puskesmas, meski biaya hanya Rp 4.000,- saya hanya pemulung kardus, gelas
dan botol plastik yang penghasilannya hanya Rp 10.000,- per hari” ujar
bapak 2 anak yang mengaku tinggal di kolong perlintasan rel KA di
Cikini itu. Supriono hanya bisa berharap Khaerunisa sembuh dengan
sendirinya. Selama sakit Khaerunisa terkadang masih mengikuti ayah dan
kakaknya, Muriski Saleh (6 thn), untuk memulung kardus di Manggarai
hingga Salemba, meski hanya terbaring digerobak ayahnya.

Karena tidak kuasa melawan penyakitnya, akhirnya Khaerunisa
menghembuskan nafas terakhirnya pada Minggu (5/6)
pukul 07.00. Khaerunisa meninggal di depan sang ayah, dengan terbaring di
dalam gerobak yang kotor itu, di sela-sela kardus yang bau. Tak ada
siapa-siapa, kecuali sang bapak dan kakaknya. Supriono dan Muriski
termangu. Uang di saku tinggal Rp 6.000,- tak mungkin cukup beli kain
kafan untuk membungkus mayat si kecil dengan layak, apalagi sampai
harus menyewa ambulans. Khaerunisa masih terbaring di gerobak.
Supriono mengajak Musriki berjalan menyorong gerobak berisikan mayat
itu dari Manggarai hingga ke Stasiun Tebet, Supriono berniat
menguburkan anaknya di kampong pemulung di Kramat, Bogor. Ia berharap
di sana mendapatkan bantuan dari sesama pemulung.

Pukul 10.00 yang mulai terik, gerobak mayat itu tiba di Stasiun Tebet.
Yang tersisa hanyalah sarung kucel yang
kemudian dipakai membungkus jenazah si kecil. Kepala mayat anak yang
dicinta itu dibiarkan terbuka, biar orang tak tahu kalau Khaerunisa sudah
menghadap Sang Khalik. Dengan menggandeng si sulung yang berusia 6 thn,
Supriono menggendong Khaerunisa menuju stasiun.

Ketika KRL jurusan Bogor datang, tiba-tiba seorang pedagang
menghampiri Supriono dan menanyakan anaknya. Lalu dijelaskan oleh
Supriono bahwa anaknya telah meninggal dan akan dibawa ke Bogor
spontan penumpang KRL yang mendengar penjelasan Supriono langsung
berkerumun dan Supriono langsung dibawa ke kantor polisi Tebet. Polisi
menyuruh agar Supriono membawa anaknya ke
RSCM dengan menumpang ambulans hitam.

Supriono ngotot meminta agar mayat anaknya bisa segera dimakamkan.
Tapi dia hanya bisa tersandar di tembok ketika menantikan surat
permintaan pulang dari RSCM. Sambil memandangi mayat Khaerunisa yang
terbujur kaku.

Hingga saat itu Muriski sang kakak yang belum mengerti kalau adiknya
telah meninggal masih terus bermain sambil sesekali memegang tubuh
adiknya.

Pukul 16.00, akhirnya petugas RSCM mengeluarkan surat tersebut,
lagi-lagi karena tidak punya uang untuk menyewa ambulans, Supriono
harus berjalan kaki menggendong mayat Khaerunisa dengan kain sarung
sambil menggandeng tangan Muriski. Beberapa warga yang iba memberikan
uang sekadarnya untuk ongkos perjalanan ke Bogor. Para pedagang di
RSCM juga memberikan air minum kemasan untuk bekal Supriono dan
Muriski di perjalanan.

Psikolog Sartono Mukadis menangis mendengar cerita ini dan mengaku
benar-benar terpukul dengan peristiwa yang sangat tragis tersebut
karena masyarakat dan aparat pemerintah saat ini sudah tidak lagi
perduli terhadap sesama. Peristiwa itu adalah dosa masyarakat yang
seharusnya kita bertanggung jawab untuk mengurus jenazah Khaerunisa.
Jangan bilang keluarga Supriono tidak memiliki KTP atau KK atau bahkan
tempat tinggal dan alamat tetap. Ini merupakan tamparan untuk bangsa
Indonesia, ujarnya.

Koordinator Urban Poor Consortium, Wardah Hafidz, mengatakan
peristiwa itu seharusnya tidak terjadi jika pemerintah memberikan
pelayanan kesehatan bagi orang yang tidak mampu. Yang terjadi selama
ini, pemerintah hanya memerangi kemiskinan, tidak mengurusi orang
miskin kata Wardah.

July 25, 2009

A nice post to begin with! :P

I got it from a friend of mine, and while readin it Im noddin every word he said. Its just Amazing!

GEORGE CARLIN
(His wife recently died…and George followed her, dying July 2008)

Isn’t it amazing that George Carlin – comedian of the 70s and
80s – could write something so very eloquent…and so very appropriate.

A Message by George Carlin:

The paradox of our time in history is that we have taller buildings
but shorter tempers, wider Freeways, but narrower viewpoints..
We spend more, but have less, we buy more, but enjoy less
We have bigger houses and smaller families, more conveniences,
but less time. We have more degrees but less sense, more knowledge,
but less judgment, more experts, yet more problems, more medicine,
but less wellness.

We drink too much, smoke too much, spend too recklessly, laugh too
little, drive too fast, get too angry, stay up too late, get up too tired,
read too little, watch TV too much, and pray too seldom.

We have multiplied our possessions, but reduced our values. We talk
too much, love too seldom, and hate too often.

We’ve learned how to make a living, but not a life. We’ve added years
to life not life to years. We’ve been all the way to the moon and back,
but have trouble crossing the street to meet a new neighbor.
We conquered outer space but not inner space. We’ve done larger things,
but not better things.

We’ve cleaned up the air, but polluted the soul. We’ve conquered the
atom, but not our prejudice. We write more, but learn less. We plan
more, but accomplish less. We’ve learned to rush, but not to wait. We
build more computers to hold more information, to produce more copies
than ever, but we communicate less and less.

These are the times of fast foods and slow digestion, big men and small
character, steep profits and shallow relationships. These are the days
of two incomes but more divorce, fancier houses, but broken homes.
These are days of quick trips, disposable diapers, throwaway morality,
one night stands, overweight bodies, and pills that do everything from
cheer, to quiet, to kill. It is a time when there is much in the showroom
window and nothing in the stockroom. A time when technology can bring
this letter to you, and a time when you can choose either to share this
insight, or to just hit delete…

Remember; spend some time with your loved ones, because they are not
going to be around forever.

Remember, say a kind word to someone who looks up to you in awe, because
that little person soon will grow up and leave your side.

Remember, to give a warm hug to the one next to you, because that is
the only treasure you can give with your heart and it doesn’t cost a cent.

Remember, to say, ‘I love you’ to your partner and your loved ones, but
most of all mean it. A kiss and an embrace will mend hurt when it comes
from deep inside of you.

Remember to hold hands and cherish the moment for someday that person
will not be there again.

Give time to love, give time to speak! And give time to share the precious
thoughts in your mind.

AND ALWAYS REMEMBER:

Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments
that take our breath away.

If you don’t send this to at least 8 people…….Who cares?

George Carlin

July 24, 2009

NEW!

hallo everyone!

So this is the new appearance of my blog, it consists of lot new things, a bolder side of me than the previous one. While the previous blog mostly  talkin  about my “N” side, this new one consists of lot more “B” aka Bold things, everything will just be bolder now.  Furthermore, this will be a more exciting blog than before, I guarantee that!, :P ,  so just check it out! and keep up with it, hehe :D .

Thanks!